CeRITA CITRA

Posted in Suka-suka saya by citracinderastuti on November 22, 2009

Saya sedang suka warna biru dongker (bagaimana sebetulnya menulis “dongker”?)

At that time, there were no FB. Today, on FB you can be anyone, anything you want to be. You can cover your Face on this Book.

Posted in Suka-suka saya by citracinderastuti on November 21, 2009

In Santa Monica,in the wintertime,

the lazy streets so undemanding I walk into the crowd

In Santa Monica, you get your coffee from the coolest places on the promenade
Where people dress just so Beauty so unavoidable, everywhere you turn
it’s there.
I sit and wonder what am I doing here?

But on the telephone line I am anyone,
I am anything I want to be.
I could be a super model or Norman Mailer
And you wouldn’t know the difference Or would you?

In Santa Monica, all the people got modern names like Jake or Mandy
And modern bodies too
In Santa Monica, on the boulevard, you’ll have to dodge those in-line skaters
Or they’ll knock you down
I never felt so lonely Never felt so out of place
I never wanted something more than this

But on the telephone line I am anyone,
I am anything I want to be
I could be a super model or Norman Mailer
And you wouldn’t know the difference
On the telephone line I am any height, I am any age I want to be
I could be a caped crusader, or space invader
And you wouldn’t know the difference Or would you?

———– Santa Monica – Savage Garden

http://www.youtube.com/watch?v=t2g3NJqFURU&feature=related

Olivia Ong and My Imagination

Posted in Suka-suka saya by citracinderastuti on November 21, 2009

This is the album of Olivia Ong, Fall In Love With.

This night, while designing general plan, I listened this album again after so long.

Then i tried to sleep for a while, for an hour.

I let my windows media center played Olivia’s songs, which made them come into my dream.

I dreamed about drama-series i’d watched before with her songs as the backsound.

The story of the drama-series in my dream was so bad.

The main actor become an evil that played the girl’s heart.

And with Olivia’s songs as the soundtrack, it made me want to cry. Hiks…

Later i realize that those songs able to create so wild imagination in my head.

The more i listen, the more i feel like my life is a drama. Hahaha.

Saya (beneran) berkaca2 membaca tulisan ini

Posted in Haru Biru by citracinderastuti on November 21, 2009

Pidato Anak Usia 12 Tahun Bikin forum PBB Terdiam (1992)

Cerita ini berbicara mengenai seorang anak yg bernama Severn Suzuki seorang
anak yg pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children’s Organization
( ECO ).

ECO sendiri adalah Sebuah kelompok kecil anak” yg mendedikasikan diri Untuk
belajar dan mengajarkan pada anak” lain mengenai masalah” lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada
saat itu Seveern yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg
memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.

Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa
membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh
dengan orang” terkemuka yg berdiri dan memberikan Tepuk Tangan yg meriah kepada
anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (sumber The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O – Enviromental Children
Organization

Kami Adalah Kelompok dari kanada yg terdiri dari anak” berusia 12 dan 13 tahun.
Yang mencoba membuat Perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq
dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang kesini sejauh 6000
mil. Untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus
mengubah cara anda, Hari ini Disini juga. Saya tidak memiliki agenda
tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kehilangan masa depan tidaklah sama seperti kalah dalam pemilihan umum atau
rugi dalam pasar saham. Saya berada disini untuk berbicara bagi semua generasi
yg akan datang.

Saya berada disini mewakili anak” yg kelaparan di seluruh dunia yang
tangisannya tidak lagi terdengar.

Saya berada disini untuk berbicara bagi binatang” yang sekarat yang tidak
terhitung jumlahnya diseluruh planet ini karena kehilangan habitat nya. kami
tidak boleh tidak di dengar.

Saya merasa takut untuk berada dibawah sinar matahari karena berlubang nya
lapisan OZON. Saya merasa takut untuk bernafas karena saya tidak tahu ada bahan
kimia apa yg dibawa oleh udara.

Saya sering memancing di di Vancouver bersama ayah saya hingga beberapa tahun
yang lalu kami menemukan bahwa ikan”nya penuh dengan kanker. Dan sekarang kami
mendengar bahwa binatang” dan tumbuhan satu persatu mengalami kepunahan tiap
harinya – hilang selamanya.

Dalam hidup saya, saya memiliki mimpi untuk melihat kumpulan besar binatang”
liar, hutan rimba dan hutan tropis yang penuh dengan burung dan kupu”. tetapi
sekarang saya tidak tahu apakah hal” tersebut bahkan masih ada untuk dilihat
oleh anak saya nantinya.

Apakah anda sekalian harus khawatir terhadap masalah” kecil ini ketika anda
sekalian masih berusia sama serperti saya sekarang?

Semua ini terjadi di hadapan kita dan walaupun begitu kita masih tetap bersikap
bagaikan kita masih memiliki banyak waktu dan semua pemecahan nya. Saya
hanyalah seorang anak kecil dan saya tidak memiliki semua pemecahan nya tetapi
saya ingin anda sekalian menyadari bahwa anda sekalian juga sama seperti saya!

Anda tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki lubang pada lapisan ozon kita.
Anda tidak tahu bagaiman cara mengembalikan ikan-ikan salmon ke sungai
asalnya.
Anda tidak tahu bagaimana caranya mengembalikan binatang-binatang yang telah
punah.

Dan anda tidak dapat mengembalikan Hutan-Hutan seperti sediakala di tempatnya
yang sekarang hanya berupa padang pasir..
Jika anda tidak tahu bagaima cara memperbaikinya.
TOLONG BERHENTI MERUSAKNYA!

Disini anda adalah deligasi negara-negara anda. Pengusaha, Anggota perhimpunan,
wartawan atau politisi – tetapi sebenernya anda adalah ayah dan ibu, saudara
laki” dan saudara perempuan, paman dan bibi – dan anda semua adalah anak dari
seseorang.

Saya hanyalah seorang anak kecil, namun saya tahu bahwa kita semua adalah
bagian dari sebuah keluarga besar, yang beranggotakan lebih dari 5 milyar,
terdiri dari 30 juta rumpun dan kita semua berbagi udara, air dan tanah di
planet yang sama – perbatasan dan pemerintahan tidak akan mengubah hal
tersebut.

Saya Hanyalah seorang anak kecil namun begitu saya tahu bahwa kita semua
menghadapi permasalahan yang sama dan kita seharusnya bersatu untuk tujuan yang
sama.

Walaupun marah, namun saya tidak buta, dan walaupun takut, saya tidak ragu
untuk memberitahukan dunia apa yang saya rasakan.

Di Negara saya, kami sangat banyak melakukan penyia-nyiaan, kami membeli
sesuatu dan kemudian membuang nya, beli dan kemudian buang. walaupun begitu
tetap saja negara” di utara tidak akan berbagi dengan mereka yang memerlukan.
Bahkan ketika kita memiliki lebih dari cukup, kita merasa takut untuk
kehilangan sebagian kekayaan kita, kita takut untuk berbagi.

Di Kanada kami memiliki kehidupan yang nyaman, dengan sandang, pangan dan papan
yang berkecukupan – kami memiliki jam tangan, sepeda, komputer dan perlengkapan
televisi.

Dua hari yang lalu di Brazil sini, kami terkejut ketika kami menghabiskan waktu
dengan anak” yang hidup di jalanan. Dan salah satu anak tersebut memberitahukan
kepada kami: ” Aku berharap aku kaya , dan jika Aku kaya, Aku akan memberikan
anak” jalanan makanan, pakaian dan obat-obatan, tempat tinggal . dan Cinta dan
Kasih sayang ” .

Jika seorang anak yang berada dijalanan yang tidak memiliki apapun, bersedia
untuk berbagi, mengapa kita yang memiliki segalanya masih begitu serakah?

Saya tidak dapat berhenti memikirkan bahwa anak” tersebut berusia sama dengan
saya , bahwa tempat kelahiran anda dapat membuat perbedaan yang begitu besar.
bahwa saya bisa saja menjadi salah satu dari anak” yang hidup di Favellas di
Rio; saya bisa saja menjadi anak yang kelaparan di Somalia ; seorang korban
perang timur tengah atau pengemis di India .

Saya hanyalah Seorang anak kecil namun saya tahu bahwa jika semua Uang yang
dihabiskan untuk perang dipakai untuk mengurangi tingkat kemisikinan dan
menemukan jawaban terhadap permasalahan alam, betapa indah jadinya dunia ini.

Di sekolah, bahkan di taman kanak-kanak anda mengajarkan kami untuk berbuat
baik. Anda mengajarkan pada kami untuk tidak berkelahi dengan orang lain.
Mencari jalan keluar, membereskan kekacauan yang kita timbulkan.
Tidak menyakiti makhluk hidup lain, Berbagi dan tidak tamak..

Lalu mengapa anda kemudian melakukan hal yang anda ajarakan pada kami supaya
tidak boleh dilakukan tersebut?

Jangan lupakan mengapa anda menghadiri Konfrensi ini. mengapa anda melakukan
hal ini – kami adalah anak” anda semua , Anda sekalianlah yang memutuskan dunia
seperti apa yang akan kami tinggali. Orang tua seharus nya dapat memberikan
kenyamanan pada anak” mereka dengan mengatakan ” Semuanya akan baik-baik saja
“. ‘kami melakukan yang terbaik yang dapat kami lakukan’ dan ‘ ini bukanlah
akhir dari segalanya’

Tetapi saya tidak merasa bahwa anda dapat mengatakan hal tersebut kepada kami
lagi. Apakah kami bahkan ada dalam daftar prioritas anda semua?
Ayah saya selalu berkata ‘ kamu akan selalu dikenang karena perbuatan mu bukan
oleh kata” mu ‘

Jadi, apa yang anda lakukan membuat saya menangis pada malam hari. kalian orang
dewasa berkata bahwa kalian menyayangi kami.

Saya menantang A N D A , cobalah untuk mewujudkan kata” tersebut.

Sekian dan terima kasih atas perhatian nya.

Servern Cullis-Suzuki telah membungkam 1 ruang sidang Konfrensi PBB, membungkam
seluruh Orang” penting dari seluruh dunia hanya dengan pidatonya, setelah
pidato nya selesai serempak seluruh Orang yang hadir diruang pidato tersebut
berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah kepada anak berusia 12 tahun.

dan setelah itu ketua PBB mengatakan dalam pidato nya..

” Hari ini Saya merasa sangatlah Malu terhadap Diri saya sendiri karena saya
baru saja disadarkan betapa penting na linkungan dan isi nya disekitar kita
oleh Anak yang hanya berusia 12 tahun yang maju berdiri di mimbar ini tanpa
selembar pun Naskah untuk berpidato, sedang kan saya maju membawa berlembar
naskah yang telah dibuat oleh assisten saya kemarin… Saya … tidak kita
semua dikalahkan oleh anak yang berusia 12 tahun “

Cerita ini benar” terjadi dan pidato severn Cullis-Suzuki itu benar” pidato
yang dikatakan nya dalam pidato tersebut tanpa dilebih” kan .

Apa yang anda dapat dari cerita tersebut?

http://www.youtube.com/watch?v=uZsDliXzyAY

Yang Sedang-sedang di pertengahan November 2009

Posted in Suka-suka saya by citracinderastuti on November 11, 2009

kemble-k121CL-piano

belajar piano

The_scientist_cover_artmempersiapkan untuk episode 16: The Scientist (bolak-balik di intro), doakan saya!

buku_bandung-tempo-dulubahan Tugas Akhir

jilidbahan Tugas Akhir juga

SBR1masih bahan Tugas Akhir

MyLovelySamSoondownload, download, and download, like this

3458_main_image_1244187917bahan studio desain interior V, malas mengerjakannya euy

stasiun_keretaapi_yogyakartabersiap backpacking ke Yogyakarta

being perfect is not as that simple..

Posted in Haru Biru by citracinderastuti on November 5, 2009

dari http://www.facebook.com/note.php?note_id=167386170543&ref=mf

Suatu ketika seorang manusia diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan Tuhannya dan berkata, “Tuhan ijinkan saya untuk dapat melihat seperti apakah Neraka dan Surga itu”.

Kemudian Tuhan membimbing manusia itu menuju ke dua buah pintu dan kemudian membiarkannya melihat ke dalam.

Di tengah ruangan terdapat sebuah meja bundar yang sangat besar, dan di tengahnya terdapat semangkok sup yang beraroma sangat lezat yang membuat manusia tersebut mengalir air liurnya. Meja tersebut dikelilingi orang-orang yang kurus yang tampak sangat kelaparan.

Orang-orang itu masing-masing memegang sebuah sendok yang terikat pada tangan masing-masing. Sendok tersebut cukup panjang untuk mencapai mangkok di tengah meja dan mengambil sup yang lezat tadi.

Tapi karena sendoknya terlalu panjang, mereka tidak dapat mencapai mulutnya dengan sendok tadi untuk memakan sup yang terambil.

Si Manusia tadi merinding melihat penderitaan dan kesengsaraan yang dilihatnya dalam ruangan itu.

Tuhan berkata, “Kamu sudah melihat NERAKA”

Lalu mereka menuju ke pintu kedua yang ternyata berisi meja beserta sup dan orang-orang yang kondisinya persis sama dengan ruangan di pintu pertama. Perbedaannya, di dalam ruangan ini orang-orang tersebut berbadan sehat dan berisi dan mereka sangat bergembira di keliling meja tersebut.

Melihat keadaan ini si Manusia menjadi bingung dan berkata “Apa yang terjadi ? kenapa di ruangan yang kondisinya sama ini mereka terlihat lebih bergembira ?”

Tuhan kemudian menjelaskan, “Sangat sederhana, yang dibutuhkan hanyalah satu sifat baik”

“Perhatikan bahwa orang-orang ini dengan ikhlas menyuapi orang lain yang dapat dicapainya dengan sendok bergagang panjang, sedangkan di ruangan lain orang-orang yang serakah hanyalah memikirkan kebutuhan dirinya sendiri”

Pernyataan aneh menurut saya

Posted in Suka-suka saya by citracinderastuti on November 5, 2009

5 November 2009, 30 menit yang lalu

Di sebuah infotainment TV swasta nasional, liputan premier sebuah film nasional baru-baru ini. Pemain ditanya bagaimana kesan bermain di film tersebut.

Aktor utama: “……..saya berharap film-film di Indonesia lebih banyak varian, dan saya berharap juga film-film di Indonesia menjadi lebih beragam lagi.

Aktris utama: “Ini film premier pertama saya, karena ini film pertama saya. Saya senang sekali bermain di film ini dan saya merasa sangat excited bermain di film ini…..”

Apa bedanya lebih banyak varian dengan lebih beragam? dan senang sekali dengan sangat excited?

Kursi itu…

Posted in Desain by citracinderastuti on November 4, 2009

PERSPEKTIF sketch up

Ini desain akhir yang saya kumpulkan,  Skecth up rendered by V-ray. Material yang diajukan adalah multipleks 9mm, yang awalnya sempat saya ajukan bambu namun dengan pertimbangan biaya jadi beralih ke multipleks.

DSCN0263

DSCN0262

P1000805

P1000808

P1000824

P1000815

Ini proses pembuatan mock up kursi 1:5, dengan material multipleks 1mm. Beuuuuuuh….saya membuatnya dengan kondisi kejiwaan yang…entah lah. Untuk gambar terakhir adalah bagian dudukan kursi, itu saya memakunya tengah malam, bareng si Ayah, sementara besok paginya saya harus segera ke Bandung untuk mengumpulkannya.

Dan ini lah hasil jadinya………….

P1000828

AHAHAHAHA…..nggak layak didudukin, bahkan senderannya masuk ke dalam. Catnya ancur. Trus ada bagian yang belum sempat di pasang, yaitu

P1000831PEGANGAN TANGAN

Jadi itu bagian pegangan dengan material 2 lembar HPL yang ditempel, diberi coakan untuk sambungan, terus dipanasin untuk kemudian dibending. Lalu saya cat sesuai warna kursi. Tapi masalahnya saya lupa kalau HPL itu plastik,sementara cat yang saya pakai adalah cat kayu jadi amat sangat lama menunggu cat kering. Akhirnya saya menenteng-nenteng ‘pegangan tangan’ sampai ke Bandung. Setelah kering, ternyata saya gagal memasang pegangan tangan, karena tidak sempat. Huuhuuu…

Namun, setelah mengetahui ’si itik buruk rupa’ ini dapat nilai A, maka saya jadi semangat untuk membuat versi bagusnya. Tujuan saya, untuk partisipasi di pameran mahasiswa, muliakan? Setelah cari informasi sono-sini, akhirnya saya dapat info mengenai Museum Bambu di Cibereum. Sebelumnya dua orang teman saya sudah lebih dulu membuat mock up kursi 1:5 dengan jasa pengrajin bambu, namanya Mas Ayi. Kenapa bambu? karena pada proses asistensi dengan dosen sebelumnya, saya sempat berdiskusi mengenai material-material yang dapat diaplikasikan, salah satunya Bambu. Namun dengan penggunaan bambu, harga bisa jauh lebih mahal karena teknik pengepresan dengan mal atau cetakan. Tapi karena yang akan saya buat tetap mock up 1:5, jadi saya pikir ya hayuk lah dibuat aja ini kursi dari bambu.

DSCN0004

DSCN0001

Lebih mendekati aslinya yaaa? Hehehe…yang ini sudah dengan pegangan tangan. Trus untuk bagian senderan kursi, itu masih ada pengikat, biar bambunya nggak merenggang karena faktor suhu dan udara. Kebetulan prosesnya sempat mengalami kesalahan di awal, terus saya koreksi untuk dikerjakan ulang. Akhirnya Mas Ayi membuat dua kursi dengan masing-masing kekurangan dan kelebihan. Saya pilih yang ini untuk saya bawa pulang, sedangkan satu lagi di simpan di Galeri 16 Jl. Raya Cibeureum 16, Bandung, milik Bapak Anang Sumarna yang menyebut galerinya Museum Bambu.

(Official Website Galeri 16 sudah tidak beroperasi, untuk info Galeri 16 bisa klik di http://achmad.web.id/2008/09/07/kunjungan-ke-galeri-16 )

Percakapan menyebalkan dan aneh

Posted in Suka-suka saya by citracinderastuti on November 3, 2009

Di bawah ini percakapan MENYEBALKAN menurut saya:

1). Terjadi 2 November 2009

Saya sedang online di Facebook, dan memasang status online, setelah offline (dalam status chat) sekian lama. Sewajarnya, memang akan ada yang memulai percakapan.

Orang itu: Hhai

Saya: Hai

Orang itu: Syapa nich??

Saya: What? (dengan nada whatttttt?)

Orang itu: Syappa?

Saya: Menurut lo? Kan lo duluan yg mulai percakapan, masa nggak tau gw.

Orang itu: hmm..oh tadi bukan gw yg mulai, itu adek gw

Saya: Oh ya udah

Orang itu: Oh gitu, ya udah

Saya: F R E A K (dalam hati)


2). Dahulu kala, masih dalam situasi yang sama

Orang itu: Hai, syp nich? Kul atau gawe?

Saya: Ha? kan bisa baca di info saya

Orang itu: Ooo…kul dimana niech?

Saya: Kan bisa baca di info saya

Orang itu: ——-

Saya: A L A Y (dalam hati)

Di bawah ini percakapan ANEH menurut saya:

1). 3 November 2009

Di angkot Cisitu-Tegalega jurusan Cisitu. Dua mahasiswa muda naik angkot dari gerbang belakang ITB, lalu duduk di sebalah saya.

Anak 1: …….jadi fotokopian yang dikasih itu ternyata buram, nggak jelas. Ya jadi malemnya gw harus kerja keras lagi cari di internet. Googling. Trus kalo googling di google itu kan nggak langsung dapet.

Saya: Saya lebih suka yahooing di yahoo. Oh iya, ini saya baru beli aqua merek danone loh..(dalam hati)


2). Beberapa hari yang lalu

Saya merasa kehilangan kartu ATM sementara uang bulanan saya baru dikirim (separuh). Saya sms si Ayah.

Saya: Yah, kartu ATM citra hilaaaang. Nggak ketemu nih.

Ayah: Terus kenapa?

Saya: ——K I C E P——-

Jadinya nggak bisa ambil uaaaaang. Uang citra tinggal 6 ribu.

3 jam kemudian…….

Ayah: Jadi kamu gimana ambil uangnya?

3). Beberapa waktu yang lalu di giftshop Museum Konferensi Asia Afrika.

Saya sedang membeli souvenir berupa tas bergambar sketsa tampak ddepan museum, tertulis Museum Konperensi Asia Afrika.

Saya: Wah, “KONPERENSI” pake P (bukan F, maksud saya)

Petugas: Iya, kan itu pake bahasa Indonesia.

Saya: ————–

Bilang Sayang ke Ayah

Posted in Haru Biru by citracinderastuti on November 2, 2009

Ada dua orang teman kampus saya, Ditra dan Achuy, membuat group ini di Facebook, “Bliang Sayang ke Ayah”. Menurut teman saya yang lain, group ini merupakan salah satu tugas, hmm…lupa entah tugas atau lomba, pokoknya semacam itu, yang tujuannya menarik perhatian publik. Tapi apapun itu, two tumbs up untuk kalian berdua, group ini menyentuh sekali, paling nggak untuk saya. Sebelumnya, sudah ada group sejenis, namanya “I Love Dad” (lagi, kalo nggak salah), nah waktu saya diinvite sama groupnya Ditra dan Achuy ini, saya pikir loh kok ada lagi? Perasaan gw udah pernah join group ini deh. Ternyata, ini group yang berbeda.

http://www.facebook.com/group.php?gid=185959191292&ref=ts

kita nantangin kalian nih, BUAT BILANG SAYANG KE AYAH kalian dengan cara apapun. Entah kenapa hal kecil seperti ini terasa sangat susah dilakukan.
tunjukan dengan cara apapun dan share ke kita, bagaimana rasanya….
misalnya sms, video, surat, email, blog, media apapun deh…(linknya jg boleh)
share ke kita dan teman2mu lainya di sini,,
buat kmu yang bisa nunjukin dengan CARA PALING UNIK…BKAL DAPET UNIMAGENABLE PRIZE!
sebelum tanggal 29 OKTOBER 2009
>>
Terima kasih atas partisipasi kalian! Pengumuman pernyataan sayang terunik akan kami umumkan pada tanggal 18 November 2009.
>>
Ini adalah sebuah awal bagi kita bersama. Ayo dukung dan lanjutkan bersama-sama!

Ayah saya, orang yang tidak pernah ambil pusing suatu masalah, berkepala dingin. Apa yang paling saya ingat dari Ayah? ada beberapa.

Cerita satu.

Waktu saya SD kelas 6. Saat SD, saya termasuk siswa yang bertahan dengan peringkat kelas. Saya ingat sekali malam itu harus mengerjakan PR matematika untuk besok, soal persamaan. Soalnya susah, saya benar2 nggak bisa menjawabnya. Saya tanya Mama, katanya, “wah mama sudah lupa kalau pelajaran sekolah. Mama kan sudah lama nggak sekolah, tanya ayah aja yang lebih pinter.” (nice answer, tp sekarang saya merasakan juga efek dari ’sudah lama tidak sekolah’). Saya tanya Mbah (kakek), teman belajar saya, dia juga nggak ngerti. Akhirnya saya tunggu ayah saya pulang kerja. Saya tanya ayah, dia diam sejenak, berpikir, corat-coret, berpikir lagi. Dan jadilah sederet cara penyelesaian soal dengan jawabannya di kertas buram. Saya perhatikan……saya teliti…Aaah.

Menurut saya, cara penyelesaian soal tersebut seharusnya bukan seperti yang Ayah saya buat, walaupun kenyataannya ketemu jawabannya. Yah, mau bagaimana lagi, hari sudah semakin larut, akhirnya saya salin juga jawaban Ayah itu.

Esok harinya, saatnya pemeriksaan PR. Guru saya itu, Pak Mardiono, sedikit killer tapi asik. Beliau bertanya, siapa yang berani maju menulis jawaban dan cara penyelesaiannya di papan tulis? Siiiing….nggak ada satu pun anak yang angkat tangan, tidak juga saya. Menunggu, akhirnya Pak Mar mulai memanggil satu per satu. Di mulai dari Randy, saya masih sangat ingat namanya Randy Swandaru, siswa terpintar di kelas. Ternyata Randy nggak bisa menjawab soal itu. Maka kemudian dipanggil Arif Nurrosidi, peringkat 1 yang kedua (memang terdengar aneh, tapi guru saya itu memang menerapkan peringkat prestasi seperti itu, peringkat satu ada dua orang (karena jumlah nilainya sama, atau hanya berbeda super sedikit), peringkat dua pun ada dua orang). Ternyata eh ternyata Arif pun nggak bisa menjawabnya. Mulai lah Pak Mar kesal, saat itu seisi kelas sudah sangat hening. Raut wajah Pak Mar sudah tidak bisa diganggu gugat. Sekali ketuk penggaris panjang, beuuuh serasa nggak akan lulus SD. Dipanggilah yang ketiga, si peringkat dua pertama, Ajeng….ajeng siapa ya? (Jeng, maaf gw lupa nama panjang lo, hehe..). Pokoknya si Ajeng dipanggil, dan again, dia nggak bisa mengerjakan soal tersebut.

Jantung saya semakin berdegup keras, karena saya pun sama tidak bisanya menjawab soal itu. Urutan selanjutnya, saya sebagai peringkat dua ke-dua (bilang aja ke-4 gitu, hahaha). Gemetar, saya memegang buku tulis, maju ke depan kelas. Bergejolak, saya menghitung-hitung, “apa gw tulis aja nih jawaban dari Ayah, toh jawaban versi gw udah di bantah semua di jawaban-jawaban Randy, Arif, dan Ajeng. Cuma ini jawaban lain yang gw punya.” Setelah memantapkan hati, pelan-pelan, saya tulis jawaban Ayah di papan tulis. Saya bisa melihat dengan hanya melirik, sosok Pak Mar memperhatikan saya. Bismillah aja.

Selesai, saya kembali ke bangku saya. Pak Mar masih sama menyeramkannya. Dia angkat tangannya, BRAKK dipukulkan ke meja. Astaghfirullahhaladzim…salah juga jawaban gw. Saya masih ingat kata-kata Pak Mar yang marah, “MASA DARI SATU KELAS, CUMA SATU ORANG YANG BISA NGERJAIN SOAL INI?”.

What? what? Saya dong yang bisa ngerjain soal ini? apaaah? saya mengalahkan Randy, Arif, dan Ajeng? Betapa girangnya hati sayasaat itu. Pak Mar kemudian menerangkan cara penyelesaiannya. Untuk anak seusia saya saat itu, menurut saya cara penyelesaian Pak Mar sama Ayah berbeda. Pak Mar menerangkan cara berdasarkan apa yang diterangkan di textbook, panjang. Sementara Ayah menggunakan cara ala dia, yang lebih singkat, tapi sebenarnya sih sama saja.

Masa dari satu kelas cuma ayah saya yang bisa ngerjain soal ini?

Cerita dua.

Ini cerita saat saya tingkat tiga, akhir tingkat tiga di institut. Saya sedang masa Kerja Profesi di salah satu biro konsultan di daerah Kemang, JakSel, sementara saat itu sebetulnya masa libur semester….dan masih ada pengumpulan tugas! NICE. Jadi, saya harus membuat desain kursi. Untuk tahun-tahun sebelumnya, mahasiswa dinyatakan lulus apabila mengumpulkan mock up 1:1, alias ukuran asli, dan bisa di test drive, atau didudukin. Untuk angkatan saya, mungkin karena masa semester kemarin itu lebih berat selain karena dosennya sedang ada penelitian di negara lain, jadi kami boleh memilih membuat mock up kursi 1:1 atau 1:5. Saya pun memilih 1:5. Kebetulan kursi buatan saya ini hanya mengalami satu kali asistensi ke asdos, satu kali ke dosen mata kuliah, satu kali ke dosen jurusan Desain Produk. Menurut dosen mata kuliah, saya masih harus 5 kali asistensi lagi, tapi apadaya waktu terasa kurang, atau usaha saya yang terasa kurang.

Intinya, saya merasa desain kursi saya sulit untuk direalisasikan. Banyak lengkungan. Material pun menggunakan multipleks. Saya bawa gambar kerja saya ke tukang furnitur, daaan DITOLAK. “Wah, ini sih susah. Nggak mungkin bisa, pasti patah multipleksnya.” Akhirnya, saya ditemani Ayah, konsultasi ke salah seorang teman Ayah yang arsitek dan punya usaha furnitur, Pak Keke. “Wah bagus ya desain anak-anak zaman sekarang, tapi masalahnya bisa nggak ini direalisasikan?” Akhirnya saya dikasih oleh-oleh setumpuk multipleks bekas ukuran 1 mili. Di rumah, saya dan ayah mencoba-coba mem-bending (baca: melengkungkan) multipleks. Patah. Patah. Berhasil. Patah lagi. Aaargh… Intinya, saya lebih banyak pasrah dan memilih tidur dibanding memikirkan bagaimana membending multipleks yang hanya satu mili itu. Tipa tidak dengan Ayah saya, dia santai, tenang, mungkin dia berpikir kalau toh ini bukan tanggung jawab dia menyelesaikan kursi ini. Tapi dia tetap mengotak-atik multipleks-multipleks itu. Berbekal dari teori yang saya miliki, ditambah teori pak Keke, ditambah teori dia sendiri, Ayah terus mencoba. Direndam air, dipanasi, diikat. Sampai akhirnya jadi satu lengkungan yang berhasil.

Dengan keadaan saya dan Ayah harus ngantor senin-jumat dan pulang malam, maka proses membuat kursi hanya mungkin dikerjakan sabtu-minggu dan hanya ada dua kali sabtu-minggu yang tersisa sejak pengumuman keharusan mengumpulkan tugas itu. Aaaah hidup terasa malas saat mengetahui masa-masa liburan harus diisi dengan tugas kuliah yang saya juga ragu akan penyelesaiaannya. Inti dari cerita yang berlarut2 ini, adalah dengan semangat yang berbeda, semangat yang “tenang. apapun hasilnya, selama kita sudah berusaha, pasti kita dihargai”, ayah jauh lebih banyak berperan menyelesaikan kursi ini dari pada saya. Walaupun, saya yang lebih banyak membuang tenaga.

Saatnya hari pengumpulan tiba, kursi saya adalah kursi yang terjelek yang penah dibuat mahasiswa tingkat tiga. Saya hanya berharap belas kasihan dosen. Saya sempat terhenyak, saat asisten dosen bilang, “yah, kalo mock up sih materialnya nggak harus dari bahan sebenarnya, toh 1:5 ini.”  Tau gitu, gw buat pake aluminium aja, di bending sama tukang las, terus gw kasih cat yang warnanya mirip. Ah..telat.

Banyak teman yang mempertanyakan keburukan kursi saya, dengan bahasa halus tentunya. Kursi yang malang, si itik yang buruk rupa.

Beberapa hari kemudian, saya sudah di Jakarta kembali melanjutkan Kerja Profesi. Teman saya mengabarkan nilai mata kuliah Desain Mebel sudah keluar. Katanya, saya dapat nilai A. Percaya nggak percaya sih, Alhamdulillah. Saya buktikan beberapa minggu kemudian, benar saja, saya memang dapat nilai A. Padahal yang dapat nilai A nggak banyak. Yang saya yakin adalah nilai itu saya dapat karena proses asistensi saya yang walaupun hanya satu kali, tapi langsung ke dosen yang bersangkutan. Bukan maksud saya kalau asistensi ke asdos jadi nggak bagus hasilnya, tapi mungkin dengan bertemu dosen secara langsung, dosen jadi lebih tau maksud kita apalagi dosennya super sibuk, jarang bisa ditemui dan karena setahu saya saat itu hanya 2-3 orang yang mendatangi langsung si bapak dosen ini.

Nilai A untuk ayah saya.

Kesimpulannya adalah tidak ada kata sulit untuk Ayah. Sesulit apa pun, dia akan bilang “tenang aja…pasti bisa kok”. Bahkan ketika saya meminta sesuatu, Ayah pasti bilang iya. Walaupun sesuatu itu akan dipenuhinya berbulan-bulan kemudian. Saya nggak pernah tahu dibalik peng-iya-annya itu, ada usaha yang begitu keras, demi anak-anaknya. Saya Sayang Ayah.