Zaman Dahulu

Zaman dulu, saat abang saya kelas SD, seperti biasa guru pasti bertanya tentang cita-cita ke seluruh murid kelasnya. Giliran pertanyaan tersebut diterima abang saya.

Guru    : “Adi, kalau besar kamu mau jadi apa?”

Mas Adi : “Kenek bus, Pak”

Guru   ” errr…..kenek? kenapa kenek?”

Mas Adi : “Karena uangnya banyak, Pak”

Zaman Dahulu – Giliran Saya

Giliran saya yang ditanya tentang cita-cita oleh guru SD saya.

Guru    : “Jadi, apa cita-cita kamu, Citra?”

Citra    : (dalam hati — > haduuuh apa ya cita-cita gw? semua orang pengen jadi dokter, masa gw jadi dokter juga. Oh, iya Mbah kan pernah ngusulin cita-cita gw untuk jadi Insinyur Pertanian (gw rasa Mbah gw terpengaruh sinetron Si Doel Anak Sekolahan) “Hmmm….Insinyur Pertanian, Pak”

Beberapa waktu kemudian saya yang masih SD itu jadi berpikir apa cita-cita saya. Insinyur Pertanian sempat menjadi cita-cita palsu saya beberapa saat hingga saya dapat memutuskan apa cita-cita saya. Kemudian saya terpikir menjadi Arsitek karena saya selalu suka halaman konsultasi desain rumah yang ada di majalah langganan si mama. Lalu cita-cita saya berubah menjadi Jurnalis karena asik nonton serial remaja Popular dan asik membaca majalah langganan Kawanku. Dan semuanya berakhir ketika saya memutuskan sekolah di Jurusan Desain Interior.

Sekolah….sekolah…sekolah…4 tahun sekolah saya justru menjadi ragu untuk menjadi interior designer profesional. Di saat galau dan sibuk mampus menyelesaikan tugas semester, saya dan beberapa teman ngobrol tentang cita-cita bahwa mungkin sebaiknya kami menjadi penyanyi dangdut saja, tidak perlu terkenal, asalkan aktif off air dari panggung ke panggung hajatan mungkin penghasilannya mencukupi. Oh, atau jadi maketor (pembuat maket), hal ini didasari makin banyaknya orang-orang kaya yang kuliah di jurusan Desain Interior atau Arsitektur tapi mereka malas sekali membuat maket bagus karena bobot nilainya hanya 5% dari keseluruhan nilai studio per semesternya. Setahu kami, jasa maketor itu muahal, that’s why mahasiswa pemesan maket biasanya dari universitas swasta.

Demikian pula saat galau dan sibuk mampus menyelesaikan Tugas Akhir kuliah, saya dan teman saya, Paul Wegas, justru terpikir untuk jualan indomie di Australia. Hhaahahah, ini didasari karena banyaknya cerita bahwa indomie difavoritkan bule-bule dan orang pakistan, katanya mie instan terenak.

Cita-cita saya sekarang adalah ingin travelling ke luar negeri pakai uang sendiri, atau pakai uang hadiah dari lomba apaaa gitu, yang jelas bukan pakai uang orang tua.